internet of things and privacy
ketika kulkas dan lampu rumah mulai mencatat kebiasaan kita
Pernahkah kita terbangun di pagi hari, dan tanpa menyentuh sakelar apa pun, lampu kamar perlahan meredup terang? Di dapur, mesin pembuat kopi otomatis sudah mendesis hangat, menyiapkan minuman kesukaan. Rasanya seperti hidup di masa depan, bukan? Saya sendiri sering merasa seperti tokoh Tony Stark di film sains fiksi ketika sedang mengendalikan rumah hanya lewat suara. Segala kemudahan ini ditawarkan dengan manis oleh benda-benda di sekitar kita. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan berpikir: saat kita sedang santai menikmati kopi tersebut, siapa sebenarnya yang diam-diam sedang memperhatikan kita?
Mari kita mundur sedikit ke belakang untuk melihat gambaran besarnya. Sejak zaman Revolusi Industri, manusia punya satu obsesi yang tidak pernah berubah: mengotomatisasi pekerjaan yang membosankan. Dulu kita menciptakan mesin cuci agar tangan tidak lecet. Sekarang, kita menciptakan Internet of Things atau biasa disingkat IoT. Ini bukan sekadar benda mati biasa. Benda-benda ini ditanamkan cip, sensor, dan terhubung ke jaringan internet. Kulkas, lampu, televisi, hingga sikat gigi pintar kini bisa "berbicara" satu sama lain. Secara psikologis, hal ini sangat memanjakan otak kita. Otak manusia, secara evolusioner, sangat menggemari penghematan energi kognitif. Saat robot penyedot debu otomatis membersihkan lantai, otak kita mendapat hadiah kecil berupa dopamin. Kita merasa senang, santai, dan punya lebih banyak waktu luang. Namun, teman-teman, ada satu hukum mutlak dalam dunia teknologi yang sering kita lupakan. Tidak ada kemudahan yang benar-benar gratis.
Jadi, apa harga yang harus kita bayar? Di sinilah ceritanya mulai terasa sedikit seperti novel thriller psikologis. Mari kita ambil contoh kulkas pintar yang ada di dapur. Benda ini tahu persis kapan kita kehabisan stok susu. Benda ini juga mencatat seberapa sering kita membuka pintunya di tengah malam saat kita sedang stres atau cemas. Pertanyaannya, ke mana perginya informasi detail tersebut? Apakah hanya berhenti di layar aplikasi ponsel kita? Tentu tidak. Benda-benda pintar ini adalah pengumpul data yang luar biasa rakus. Robot penyedot debu kita tidak hanya menghisap debu, tapi ia memetakan luas dan denah rumah kita secara akurat. Lampu pintar kita tahu persis jam berapa aktivitas kita berhenti dan kapan kita tertidur. Tanpa sadar, kita telah mengundang puluhan mata-mata kecil ke dalam tempat paling intim dan privat di dunia: rumah kita sendiri. Lalu, sebuah pertanyaan besar menggantung. Untuk apa data-data sesepele ini dikumpulkan terus-menerus?
Ini dia rahasia besarnya yang jarang dibicarakan. Dalam dunia ilmu komputer modern dan psikologi ekonomi (behavioral economics), data kebiasaan kita adalah tambang emas murni. Data dari kulkas, lampu, dan sikat gigi kita dikirim ke server raksasa di benua lain. Di sana, algoritma machine learning tidak tidur. Mereka merangkai titik-titik kebiasaan yang terlihat acak itu menjadi sebuah profil psikologis yang sangat tajam. Perusahaan teknologi tidak terlalu peduli pada nama kita. Mereka peduli pada pola perilaku kita. Jika lampu pintar mencatat kita sering terjaga hingga jam tiga pagi, dan kulkas pintar mencatat kita banyak mengonsumsi makanan manis di jam tersebut, algoritma secara matematis bisa menyimpulkan bahwa kita sedang mengalami stres berat atau patah hati. Besok paginya, tanpa kita sadari, iklan obat tidur, layanan konseling, atau makanan cepat saji muncul di layar media sosial kita di momen paling rentan. Ini bukan kebetulan, teman-teman. Ini adalah apa yang disebut oleh para ilmuwan sebagai pengawasan berbasis prediksi (predictive surveillance). Kita bukan lagi sekadar pelanggan. Perilaku kita, emosi kita, dan kelemahan-kelemahan kecil kita telah diekstraksi menjadi produk yang bisa diprediksi dan dijual kepada pengiklan.
Tentu saja, saya tidak mengajak teman-teman untuk pulang hari ini lalu panik menghancurkan kulkas pintar atau memutus kabel internet di rumah. Teknologi IoT memiliki manfaat medis, efisiensi energi, dan kepraktisan yang tak terbantahkan. Namun, sebagai manusia modern, kita perlu mulai mempraktikkan kesadaran digital (digital mindfulness). Kita harus mulai meluangkan waktu membaca syarat dan ketentuan, meski membosankan, sebelum menekan tombol setuju. Kita berhak dan harus tahu cara mematikan fitur pelacakan lokasi atau mikrofon pada televisi pintar kita jika sedang tidak digunakan. Sejarah selalu mengajarkan kepada kita bahwa privasi bukanlah sekadar kemewahan. Privasi adalah hak asasi paling dasar untuk memiliki ruang di mana kita bisa menjadi diri sendiri, utuh dengan segala kekurangannya, tanpa dihakimi, diukur, atau dimonetisasi oleh mesin. Mari kita nikmati kemudahan teknologi yang luar biasa ini, tapi pastikan kitalah yang tetap menjadi tuan rumah di tempat tinggal kita sendiri, bukan sekadar komoditas data yang menumpang tidur di antara mesin kopi otomatis dan lampu pintar.